fbpx

Kenapa Indonesia Membutuhkan Blockchain Platform Sendiri?

Kenapa Indonesia Membutuhkan Blockchain Platform Sendiri?

Penulis : Tim Publikasi Katadata

Salah satu point yang sama dari blockchain roadmap ketiga negara ini (Australia, China dan India) adalah “meningkatkan investasi”.

5 tahun lalu sewaktu saya bekerja di VC, saya sempat mencoba membantu teman untuk membuat search engine lokal. Memang terdengar muluk dan kurang kerjaan, tapi masa sih Indonesia tidak perlu search engine sendiri? Tentu saja, hasilnya adalah beneran kurang kerjaan dan project-nya tidak ke mana-mana. Karena kemampuan teknis saja tidak cukup. Untuk bisa membuat search engine lokal, sudah sangat ruwet ceritanya. Pendanaan, fitur baru yang memberikan 10x benefit dibanding platform lama/ reason to use, traction, talent programmer dan banyak sekali faktor lainnya.

baca juga : Sosial mining pintu gerbang dunia crypto

Salah satu yang menjadi masalah bagi sosmed dan search engine lokal adalah barrier dari network effect. Yang berarti semakin banyak user (baik consumer (user) atau producer (vendor)), maka nilai dari network-nya semakin besar, dan menjadi barrier atau penghalang untuk pemain baru masuk.

Tetapi memang situasi yang sangat memprihatinkan di dunia search engine dan sosmed (alias digital ads) adalah, masa sih ada restoran nasi goreng di Serpong mau mempublikasikan promo spesialnya untuk orang-orang di daerah Serpong (radius 5 Km dari restonya) harus tergantung sama platform luar?

Melihat situasi tersebut, bagaimana dengan blockchain platform lokal? Kira-kira kenapa Indonesia membutuhkan blockchain platform lokal sendiri? Dan apakah ada peluang bagi blockchain platform lokal seperti Vexanium?

Apa itu Blockchain Platform?

Blockchain platform, yang kadangkala disebut mainnet, adalah perusahaan blockchain yang memiliki teknologi blockchainnya sendiri dan tidak berdiri di atas blockchain milik orang lain. Blockchain platform kadangkala disebut sebagai “new internet” di mana orang lain bisa membangun aplikasi terdesentralisasi di atasnya. Blockchain platform kurang pas jika diibaratkan sebagai new social media/ new search engine, karena new social media atau new search engine yang bersifat terdesentralisasi bisa dibangun di atasnya.

Perusahaan blockchain platform biasanya mengedukasi programmer yang nantinya akan membangun project menggunakan blockchain platform tersebut.

Project blockchain yang berupa platform kadang disebut “middleman jenis baru”, memang dengan blockchain, ada yang bilang middleman hilang, tetapi ada juga yang berpendapat middleman-nya berubah bentuk, yang semula (sebelum blockchain) bersifat sentralistik dengan power tanpa batas, berubah menjadi desentralistik dan power (proses pengambilan keputusan) yang lebih demokratis (misalnya lewat voting oleh banyak penambang/ block producers, kadangkala dalam bentuk weekly/ monthly meeting/ call.

Platform blockchain lokal berkembang, local job terserap.

Saya pernah membahas bahwa teknologi blockchain adalah inovasi yang bersifat market-creating.

Teknologi blockchain adalah teknologi yang bisa membuka pasar baru bagi perusahaan, sehingga perusahaan harus merekrut tenaga kerja baru untuk melayani pasar baru ini. Pembukaan pasar baru juga memiliki dampak terhadap pendanaan bagi inovasi-inovasi selanjutnya.

Coba kita lihat dulu platform teknologi besar lain yang membuka pasar di Indonesia, perusahaan mesin pencari dan social media yang kini merajai dunia. Si raja mesin pencari itu memiliki lebih dari 100 ribu karyawan, sedangkan raja social media memiliki lebih dari 45 ribu karyawan.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang no. 4 terbesar sedunia, berapa kira-kira jumlah karyawan yang mereka pekerjakan di Indonesia? 

Ini data tahun 2020 (dari beberapa rekan yang pernah bekerja di 2 perusahaan tersebut di Indonesia) 

  • Si raja sosmed mempekerjakan 30-an karyawan di Indonesia (dari total 45 ribuan), padahal menurut data April 2020, social media users Indonesia ada di nomor 3 terbesar di dunia.
  • Si raja mesin pencari? 60-an saja (dari total 100 ribuan).

Bandingkan dengan jumlah karyawan perusahaan teknologi lokal asal Indonesia:
Tokopedia 4.700
Gojek lebih dari 4.000
Shopee lebih dari 3.000 

Beda nolnya berapa? hampir dua. Di kisaran 50 s/d 100 x lipatnya.

Kenapa karyawan di cabang Indonesianya sedikit sekali? Ya karena tidak butuh banyak.

Jadi apa artinya? memang teknologi akan membuka market baru, blockchain adalah teknologi yang membuka pasar baru dalam dekade ke depan dan perusahaan akan merekrut banyak orang, mengembangkan banyak talenta untuk melayani market ini, tetapi kalau pasar yang dibuka adalah pasar Indonesia, kalau tenaga kerja yang direkrut bukan tenaga kerja Indonesia, programmer yang dididik bukan programmer Indonesia, ya efek dari market creating innovation hanya sedikit saja.

Edukasi Talenta Lokal – Faktor Utama Rise And Fall of Empire/ Nation

Karyawan lokal yang direkrut tentu akan terkait juga dengan edukasi. Karyawan yang direkrut oleh Tokopedia akan banyak belajar tentang teknologi dan ecommerce sehingga ada transfer teknologi dan edukasi bagi warga lokal di sana.
Karyawan yang diedukasi di perusahaan teknologi ini punya peluang untuk membuat bisnis di ranah yang mirip (teknologi), dan berpeluang mendapatkan pendanaan dari investor (“alumni gojek”, “ex Rocket”) dan membuka lapangan kerja baru.

“Edukasi” ini bukanlah hal yang sederhana. Karena edukasi ada di nomor 1 yang mendorong kemajuan atau kemunduran sebuah bangsa. Ray Dalio yang meneliti sejarah dari rise and fall of empire dan menempatkannya dalam perspektif ekonomi, politik, policy saat ini (baca di: https://www.principles.com/the-changing-world-order/ ) menempatkan edukasi sebagai leading indicator (leading = indikator yang mengawali) nomor 1 dari kemajuan sebuah bangsa.

Vexanium Blockchain (Katadata)

Dari gambar di atas terlihat bahwa edukasi sebagai leading indicator yang membawa kemajuan sebuah bangsa. Edukasi yang kuat menurut Ray Dalio juga berimplikasi meningkatnya kekuatan di area yang lain.

“Strong education leads to strengths in most areas.” (Principles – Ray Dalio)

Nah, kembali ke blockchain, blockchain adalah teknologi yang memiliki dampak besar seperti halnya internet, karena merevolusi trust, ada yang bilang “Blockchain is the most significant invention after the internet.”  

https://hbr.org/2017/03/the-blockchain-will-do-to-banks-and-law-firms-what-the-internet-did-to-media

Apa Revolusi yang dibawa oleh blockchain? 

Apakah kita kira-kira harus menunggu 10-20 tahun untuk menunggu mengedukasi talenta programmer lokal tentang blockchain?

Baca juga : https://bijaktechnology.com/blockchain-cryptocurrency-part-1/

Vexanium adalah blockchain platform satu-satunya yang saat ini melakukan edukasi ke programmer lokal. Supaya Indonesia bisa memiliki SDM yang unggul di dalam dunia blockchain. Bukan hanya menarik dana dari investor lokal saja.

RI Tak Bangun Kilang Minyak Selama 30 Tahun 

Jika data is the new oil, mungkin saja situasi Indonesia yang tidak memiliki sosmed atau search engine lokal sebenarnya ada kemiripan situasi dengan Indonesia yang tidak membangun kilang minyak sendiri selama 30 tahun. (Baca: https://www.cnbcindonesia.com/news/20191226145341-4-125751/tak-cuma-mafia-ini-juga-bikin-ri-tak-bangun-kilang-30-tahun) Lihatlah berita ini baru muncul tahun 2019, sedangkan kita memakai minyak bumi mungkin dari tahun 80-an.

Jika kita baru memakai search engine di kisaran awal tahun 2000-an, baru memakai sosmed tahun 2010, tahun berapa kita sadar kalau kita tidak membangun mesin pencari atau sosmed sendiri? Harus menunggu 30 tahun? Tahun 2040? 2050? Harus menunggu sampai peluangnya terkubur habis?

Lalu bagaimana dengan blockchain? 

Belum Terlambat Untuk Memiliki dan Mengembangkan Platform Blockchain Lokal

Bila membangun social media lokal, atau search engine lokal terlambat. Bagaimana kalau blockchain platform lokal? kemungkinan besar belum. Kenapa? Karena killer app di blockchain, kemungkinan besar, belum ada. 

Ada yang bilang killer app blockchain adalah trading, spekulasi, Bitcoin. Namun menurut kebanyakan orang jawabannya adalah belum ada.

Dengan demikian peluang bagi perusahaan lokal berkembang, baik platform atau bukan sebenarnya masih sangat terbuka lebar, sebab lainnya adalah karena network effect dari blockchain luar yang belum terbangun. Berbeda dengan media sosial, ketika Kominfo menyatakan mensupport OTT lokal sudah berat bagi media sosial lokal untuk memberikan benefit 10x lipat dari yang sudah ada, investor pun tidak berani memberikan investasi.

Aktivitas Blockchain Lokal, Insentif untuk Miner Lokal

Di awal 2020 ini kita melihat Australia, China, dan India meluncurkan blockchain roadmap-nya. Salah satu point yang sama dari roadmap ketiga negara ini adalah “meningkatkan investasi”, sedangkan roadmap Australia secara spesifik menulis “increase international investment” kalau di China menuliskannya dengan “Increase Investment (More capital is going in from corporates and institutional money)” (interpretasi)

Kenapa blockchain bisa meningkatkan investasi? Ada banyak angle pendapat di sini. Bisa bicara tentang investasi dalam lingkup nasional, bisa juga lingkup UKM/ startup yang lebih kecil.

Blockchain bisa meng-enable yang namanya “internet level cap table” (cap table = kepemilikan perusahaan) Dimana sebelum ada blockchain, kepemilikan perusahaan biasanya sangat terbatas, biasa ditulis di excel, tidak transparan dan tidak likuid (sampai IPO), namun dengan konsep token yang dibangun di atas blockchain, kini kepemilikan perusahaan bisa di-disrupsi dengan sifat yang unlimited, transparan, jauh lebih likuid tanpa perlu menunggu IPO alias kepemilikan saham skala internet.

Jika kita berbicara tentang investasi bagi perusahaan lokal, atau ruang lingkup nasional, tentu saja lebih baik jika kita menggunakan platform blockchain lokal. Alias middleman lokal (di awal tulisan ini saya membahas bahwa blockchain platform menghasilkan middleman jenis baru). Untuk apa kita memberikan insentif kepada middleman (miner/ block producer) luar negeri kalau investasinya atau fundraising-nya dari investor lokal kepada startup atau entitas lokal juga? 

Kalau bisa jangan ulangi kesalahan di mana restoran nasi goreng lokal harus beriklan ke entitas luar negeri hanya untuk  beriklan di daerahnya saja.

Itu adalah beberapa alasan kenapa Indonesia membutuhkan platform blockchain sendiri. Blockchain sendiri bukanlah hal yang kecil karena ada yang menyebutnya “next significant invention after internet” sampai China menyatakan diri ingin menjadi pemimpin di teknologi blockchain, sudah memiliki roadmapnya, juga India dan Australia. 

Mari kita kembangkan platform blockchain lokal!

Gunakan Vexanium atau platform blockchain lokal lainnya.

sumber : katadata.co.id – Kenapa Indonesia Membutuhkan Blockchain Platform Sendiri?

Leave a Reply